Sat. Dec 10th, 2022

Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel 4 Tips Melatih Jiwa Kemandirian Santri, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Tentu saja kenal kembali didengarkan dengan panggilan atas nama santri. Siapakah santri itu? Menurut Gus Mus, santri sebagai siswa kyai yang terdidik dengan kasih-sayang menjadi mukmin yang kuat menyukai tanah airnya, menghargakan adat budayanya, dan yang menghargakan guru dan orang tuanya.

Seorang santri itu barisan orang yang mengasihi ke sama-sama, yang menyukai pengetahuan dan tidak ada henti belajar, dan yang memandang agama sebagai karunia dan hasil wasilah mendapatkan ridha tuhannya.

Adapun kemandirian, untuk seorang santri sebagai kesiapan untuk berdiri dengan sendiri dengan keberanian dan tanggungjawab atas semua perilaku dalam melakukan kewajiban buat penuhi tuntutan hidup. Hingga, kemandirian ini, untuknya dilihat sebagai doktrin paling besar dalam mengubah kehidupan.

Pemaknaan kemandirian yang dijiwai santri secara umum diaktualisasikan dalam mengolah sendiri, membersihkan pakaian sendiri, disiplin waktu, ikuti peraturan, mengusai bahasa Arab, bahkan juga dapat bersebelahan dengan rekan sepondok, dll.

Tidak cuma itu, bahkan juga faedah yang kandungan di dalamnya, sebagai jiwa kemandirian santri, sebagai kekuatan untuk pesantren dalam tingkatkan kestabilan ekonomi juga, dikit demi sedikit mulai terbangun sebegitu rupa.

Selain itu, kemandirian santri sebuah parameter pendewasaan dan penyiapan hadapi kehidupan yang makin kompleks. Hingga, nilai kemandirian yang dicontohkan oleh ponpes jadi praksis pengajaran yang perlu sebagai refleksi atas perolehan arah pengajaran yang mulai tumbuh sebegitu maju.

Ini jadi sebuah dasar jika nilai kemandirian santri jadi keramat dalam raih hidup yang sejahtera. Seperti yang dijumpai, nilai ini benar-benar tidak berlawanan dengan nilai kolektivitas, bahkan juga kebalikannya malah jadi sisi dari nilai itu. Karena, santri secara umum hadapi nasib dan kesulitan yang serupa, karena itu sebagai resiko tiap pribadi ialah berani bertanggung-jawab untuk semua yang dibuat.

Oleh karena itu, hal yang penting dilatih tiap santri agar mempunyai jiwa kemandirian, ada empat panduan yang perlu dipunyai, yakni:

1. Sabar

Sabar yang diartikan ini, sebagai sabar dalam menunntut pengetahuan, sabar saat menjalankan kegiatan yang ditemui kesehariannya seperti sabar dalam berkawan, meredam rasa lapar, kurang harta, jauh dari keluarga, bahkan juga sampai hingga hadapi semua kesusahan yang ada.

2. Mengalah

Berani mengalah berlainan dengan kalah. Santri yang mempunyai jiwa sukai mengalah umumnya selalu jaga hati seseorang supaya tidak tersinggung. Individu yang bagus tidak malu untuk berani mengalah. Untuk yang benar-benar perduli dengan gengsi, sikap berani mengalah pasti benar-benar berat untuk dilaksanakan. Ini condong berani ganas, walau garing. Malah, orang yang berani mengalah akan disegani di sekitarnya.

3. Terima Kondisi

Berlaku terima segala hal yang dimilki apa saja itu, sebetulnya mereka senantiiasa berasa cukup atas kepunyaannya sendiri. Wujud ketentuan yang dibuat atas dirinya, satu diantaranya ialah memandang apa yang mereka peroleh atas jerih payahnya sendiri, hingga perasaan nyaman, damai, dan tenteram dalam hatinya muncul sendirinya.

4. Sukai Memberikan

Dalam hadapi kehidupan di pesantren, tiap santri yang selalu ada hadapi dengan beberapa temannya, semestinya karakter pelit atau kikir harus ditiadakan. Karena, realitanya pesantern mana saja itu, di antara santri satu sama lainnya akan sama-sama membenci seandainya dari mereka ada yang kikir.

Karena itu, jikamana memilki jajan, berilah rekan disekitarmu tidak boleh diselinapkan di lemari sampai beberapa bulan, atau jika menyaksikan mereka yang tidak punyai uang, berilah uang atau pinjami, dan lain-lain.

By Drajad