7 Fakta Menarik Tentang Mahar Pernikahan dalam Islam

Dalam Islam, emas itu wajib. Pernikahan melengkapi setengah agama, di mana ada banyak syarat dan kerukunan yang harus diikuti. Salah satunya adalah mahar.

Tanpa mas kawin di pesta pernikahan, prosesi bisa dianggap batal. Kehadiran mas kawin tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga tertuang dalam Alquran, Surat An Nisa ayat 4 yang berbunyi:

“Berikan mahar kepada perempuan (yang telah menikah) sebagai hadiah sukarela. Kemudian jika ia memberikan sebagian mahar dengan senang hati, maka makan (terima) hadiah (sebagai makanan) lagi dengan hasil yang baik.”

Dari ayat-ayat tersebut terlihat bahwa mempelai laki-laki wajib memberikan mahar kepada perempuan untuk dinikahkan. Untuk bentuk mahar sendiri bisa disesuaikan dengan kemampuan pengantin pria tanpa harus menimbangnya. Hal ini juga dipertegas dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

“Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah (murah) maharnya.” (HR Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi)

Melalui dua dalil ini, jelas terlihat bahwa mahar sangat penting dalam Islam. Lebih dari sekedar simbol pelengkap upacara pernikahan, berikut adalah 7 fakta menarik seputar emas nikah dalam Islam yang perlu Anda ketahui.

1. Tanda cinta mempelai wanita untuk suaminya

Mahar biasanya merupakan benda yang berguna bagi kedua mempelai. Pemberian mas kawin merupakan salah satu bentuk kasih sayang calon pasangan kepada istrinya. Karenanya, pemilihan mas kawin tidak bisa sembarangan. Dalam Islam, mas kawin yang diberikan kepada mempelai adalah seperangkat alat sholat, menandakan bahwa pria tersebut siap menjadi imam bagi istrinya setelah menikah.

Kami juga menyediakan layanan wedding organizer yang sudah berpengalaman, Anda bisa kunjungi situs kami di undanganmagelang.com silahkan bisa di cek.

2. Harus disesuaikan dengan situasi keuangan laki-laki

Gaun pengantin memang wajib dimiliki, namun bentuk dan harganya bisa disesuaikan dengan kemampuan pengantin pria. Calon pasangan tidak perlu memaksakan mahar melebihi kemampuan finansial mereka. Pengantin harus mendiskusikan bentuk cincin kawin sebelum pernikahan.

3. Bisa membayar tunai atau hutang

Islam tidak memaksa pengikutnya untuk memiliki niat baik untuk menyempurnakan agamanya melalui pernikahan. Sebab, mahar bisa membayar tunai atau utang, sesuai kemampuan pengantin laki-laki yang harus membeli.

Pembayaran mahar secara tunai atau hutang akan ditulis dalam persetujuan yang diberikan. Jika mempelai pria melunasi mahar hutang dan ingin melunasinya dalam waktu 1 tahun ke depan, maka ia harus tetap membayar dan melunasi mahar dalam waktu 12 bulan setelah akad nikah.

4. Tidak boleh berupa uang tunai

Meski bentuk mahar tidak diatur dalam hukum Islam, ada ketentuan yang menyebutkan bahwa mahar tidak dapat dibayarkan. Hingga saat ini, sering kita jumpai bahwa mahar yang diberikan oleh pengantin pria berbentuk uang tunai dan dihias sedemikian rupa.

Namun ternyata hal tersebut dilarang oleh Bank Indonesia dan diatur dalam Pasal 25 UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Jika ada orang yang ingin menggunakan mata uang rupiah riil sebagai mas kawin, ia akan dihukum 5 tahun atau membayar denda hingga Rp 1 miliar.

5. Sebagai hak penuh perempuan

Seperti yang sudah disebutkan di atas, mahar merupakan barang yang diberikan oleh kedua mempelai kepada istrinya. Karenanya mahar adalah hak istri. Artinya, anggota keluarga lain tidak memiliki hak dan tidak dapat mengangkut.

Jika di kemudian hari, sang suami ingin meminjam mahar, ia harus mendapat izin istri terlebih dahulu. Jika istri tidak memberikan izin kepada suaminya untuk menggunakan mahar yang telah diberikan kepadanya, maka suami tidak berhak menjalankan kehendaknya.

6. Tidak sama dengan kado pernikahan

Banyak orang mengira bahwa hadiah dan mahar itu. Jangan salah sangka lho, meski terkadang bentuknya hampir sama, ternyata kado dan hantu itu tidak sama dan jangan sampai tertukar.

Perbedaan antara pemberian dan mas kawin adalah sifat dari hasilnya. Jika mas kawin itu wajib dan harus ada dalam pernikahan, maka itu bukanlah hadiah. Meski tanpa kado pernikahan, acara tetap bisa berjalan dengan lancar dan bisa dilegalkan. Selain itu, jika cincin kawin bisa bermanfaat bagi calon pengantin, kado hanya bisa menjadi hiasan.

Hadiah pernikahan bisa diberikan kepada siapa saja yang menyukai calon pengantin. Berbeda dengan mas kawin yang harus diberikan kepada pengantin pria.

7. Harus ada manfaatnya bagi pengantin wanita

Mahar yang diberikan oleh mempelai laki-laki dalam perkawinan boleh saja memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun yang terpenting mahar tersebut harus memiliki nilai yang berguna dan bermanfaat bagi penerimanya.