Sun. Oct 2nd, 2022

Jika Anda melihat pabrik kimia, kilang minyak ataupun pabrik LNG, Anda pasti dapat melihat pipa-pipa berbaris saling terkait pada vessel, tower, pompa dan lainnya. Diibaratkan sebagai pasta plus spageti metal raksasa yang tercecer.

Untuk seorang yang bekerja sebagai insinyur pipa atau piping engineer, penampakan yang bagus sesungguhnya bukan target desain tata letak pipa, tetapi tersedia keindahan dan kepuasan tersendiri sementara melihat barisan pipa tersebut.

Tentu banyak hal yang kudu diperhatikan oleh piping engineer sementara mendesain. Ruang lingkup seorang piping engineer bukan cuma pipa, tetapi termasuk menyangkut komponen pipa lainnya layaknya fitting elbow, reducer, flange, valve, steam trap, strainer dan masih banyak lagi.

Dibawah ini adalah sebagian garis besar mengenai bagaimana mendesain pipa secara umum.

 

1. Standar Desain

Biasanya standar untuk pipa di pabrik pembangkit listrik tidak sama dengan standar untuk pipa di pabrik yang mengolah LNG. Berbeda pula dengan standar untuk pipa transfer gas. Masing-masing pasti mempunyai standar yang berbeda.

Contoh saja untuk pabrik pembangkit listrik menggunakan ASME B31.1 sebagai acuan mendesain. Untuk pabrik LNG menggunakan standar ASME B31.3. Sedangkan pipa transfer gas menggunakan ASME B31.8.

Selain ASME (American Society of Mechanical Engineers) yang dibuat oleh Amerika, sebagian negara termasuk memicu standarnya sendiri sementara dapat memicu pabrik di negara tersebut. Misalnya Australia, mempunyai standar AS (Australian Standards), Jepang dengan JPI (Japan Petrochemical Industry) dan Inggris dengan BS (British Standards).

Selain standar itu, tersedia termasuk syarat berasal dari pemilik pabrik, contohnya perusahaan minyak Shell dengan DEP-nya (Design plus Engineering Practice), Exxon Mobil dengan GP (Global Practice). Standar yang dapat dipakai, sesungguhnya kudu ditetapkan berasal dari awal.

2. Jenis, Tekanan, Suhu dan Besar Arus berasal dari Fluida

Dengan standar yang telah ditetapkan, setelah itu perhitungan ketebalan pilih material dan pipa yang dapat digunakan dan komponen pipa lainnya sanggup dilaksanakan berdasarkan jenis, tekanan, suhu dan besar arus berasal dari fluida yang dapat mengalir sementara pabrik telah beroperasi.

Untuk pilih material, piping engineer kudu pilih material yang sesuai layaknya material ASTM (American Society for Testing plus Materials). Contoh saja pipa untuk fluida hydrocarbon dengan suhu rendah sampai -50 C digunakan pipa carbon steel dengan kode ASTM A 333. Sedangkan untuk fluida hydrocarbon yang korosif dan bersuhu rendah biasanya diaplikasikan pipa stainless steel dengan kode ASTM A 312.

Mengenai dimensi pipa, valve, flange, forged fitting dan komponen pipa lainnya, tidak kudu didesain karena dimensi selanjutnya telah ditetapkan di sebagian standar yang ada, tinggal pilih saja dan sesuai hasil perhitungan berasal dari tekanan dan besarnya arus fluida.

Untuk mempermudah pekerjaan biasanya dapat dibuat daftar yang dinamakan pelayanan class yang memuat detail material berdasarkan jenis, tekanan dan suhu fluida. Pada pelayanan class ini tiap tiap komponen diberi kode tersendiri, hal ini bertujuan untuk mempermudah di dalam mengontrol barang dan mempermudah sementara konstruksi.

3. Jalur Pipa

Jika pelayanan class telah dibuat, barulah desain dimulai dengan jalan pipa yang dapat dibangun. Menentukan jalan pipa termasuk kudu pertimbangan yang sangat matang layaknya hal selanjutnya :

a. Efek pergantian suhu

Pipa biasanya dapat mengalami pemuaian atau penyusutan tergantung suhu sementara beroperasi. Untuk itu diperlukan fleksibilitas pipa untuk sanggup menyerap pergantian panjang tersebut. Salah satu yang biasa dilaksanakan yakni memperbanyak loop atau belokan dengan elbow. Sketsa jalan pipa yang telah didesain dapat dimasukkan ke di dalam computer agar perhitungan dan simulasi efek pergantian suhu sanggup dicek. Jika lantas simulasinya tidak bagus, maka desainer kudu mengulangi desain jalan pipa itu.

 

b. Akses untuk operasi dan pemeliharaan

Akses termasuk kudu dipikirkan karena untuk mengoperasikan dan pelihara valve, pompa dan komponen lainnya. Jalur pipa kudu diatur sedemikian rupa agar membantu akses yang mudah dan termasuk agar tidak berlangsung tabrakan antar pipa atau pipa dengan komponen lain. Ini dapat sulit dilaksanakan jika desain di dalam dua dimensi (2D). Karena itu kudu diperlukan pengembangan jadi 3D. Dengan kemajuan software computer saat ini model 3D pun makin mudah diterapkan, hal ini sangat berfaedah untuk melihat penampilan dan sebagian simulasi sejalan agar lebih kinerja desain lebih efektif.

 

c. Penopang pipa

Tipe dan penempatan penopang pipa termasuk hal mutlak yang kudu diperhatikan. Penopang termasuk mempunyai fungsi mutlak di dalam evaluasi efek pergantian suhu terhadap pipa. Kesalahan terhadap penopang sanggup memicu kerusakan terhadap pompa dan kompresor.

 

d. Persyaratan lain

Flow Meter Solar untuk ketelitian ukuran perlu panjang pipa lurus adalah salah satu contohnya. Pipa termasuk tersedia yang kudu dibuat dengan kemiringan khusus untuk memastikan cairan dan gas mengalir ke arah yang semestinya. Larangan adanya low pocket terhadap jalan pipa dengan fluida bersuhu rendah tidak boleh diletakkan berdampingan dengan pipa fluida bersuhu tinggi, dan macam kriteria lainnya termasuk kudu diperhatikan.

e. Ekonomis dan kemudahan konstruksi

Meskipun prosedur ini paling akhir, tetapi termasuk kudu dipikirkan sejak awal. Untuk menyerap pemuaian atau untuk memicu akses yang baik, dapat perlu elbow yang lebih banyak. Hal ini memicu sistem las jadi lebih banyak termasuk yang berarti tidak cukup ekonomis dan lebih berat konstruksinya. Keahlian untuk mengkombinasikan mengenai ekonomis dan konstruksi inilah yang diperlukan seorang piping engineer.

Demikianlah tugas seorang piping engineer secara umum. Karena banyaknya job desk, sulit untuk mengerjakan seluruh hal diatas. Pembagian tugas jadi tiga di di dalam piping engineer jadi material, desain dan anggapan adalah hal yang kemungkinan biasa ditemukan.

By toha