Sat. May 28th, 2022

Cargonesia.com – Jasa pengangkutan barang dapat disebut sebagai satu diantaranya aktivitas budaya paling tua yang dipunyai manusia. Meski benar-benar sukar memastikan waktu kapan pertama kesibukan pengantaran barang mulai dikerjakan, tetapi minimal kita bisa mendapati soal ini tebersit dikupas dalam beberapa catatan kuno.

 

Umpamanya yang ada dalam Kitab Ibrani, Sejumlah raja Pertama (Pasal 9 ayat 26-27), yang ceritakan usaha Nabi Sulaiman bangun armada dagang supaya bisa datangkan beberapa barang yang diperlukan bangsa Ibrani. Dalam Kitab ini dikisahkan jika buat mengaktualkan keinginan itu, Nabi Sulaiman mengharap pertolongan untuk Hiram, Raja Shur, supaya jalankan armadanya sekalian latih bangsa Ibrani menjalani lautan.

 

Hiram yang menolong Sulaiman membuat armada laut, yaitu Raja Phoenicia dari Tirus (nama lain dari Sour atau Shur) menurut Kitab Ibrani. Hiram (huram atau horam) merupakan pula bersekutu dengan Daud. Hiram banyak menolong Daud dalam pembangunan Istananya dengan kirimkan pekerja-pekerja yang tangkas. Sehabis kematian Daud, Hiram masuk ke koalisi Sulaiman, yang paling menolongnya dalam membuat bait suci.

Histori banyak menulis Phoenicia menjadi bangsa maritim ulung yang kerjakan pelayaran lewati benua dalam mengorkestrai perdagangan antara bangsa di era kuno.

Beragam hasil arkeologi menunjukkan jika orang Fenesia tidak cuma mengarahkan wilayah Timur tengah sampai Mediterania, namun juga sampai ke tempat Britania.

 

Perihal ini, sama dengan yang disingkap oleh L. A. Waddell (1925), dalam bukunya “The Phoenician Origin of Britons, Scots dan Anglo-Saxons” seperti berikut : “…saat ini dijumpai jika agama agung dari Aryan Phoenicians, yang disebutkan ‘penyembahan-matahari,’ dengan budaya serta kepercayaannya yang mulia perihal terdapatnya kehidupan setelah itu, ialah kemajuan dari kematian, secara luas wajar pada awal Inggris sampai zaman Kristen.”

Marsha E. Ackermann, dkk. dalam buku Encyclopedia Of World

History menjelaskan: “…bangsa yang paling memengaruhi peradaban lain lewat perjalanan mereka ialah beberapa orang Fenisia, beberapa orang pelaut serta petualang dari Lebanon kekinian yang berada sampai sepanjang Inggris dan menjajahi sekitaran Sundul Afrika.

Beberapa orang Fenisia dipercayai melaut dari Lebanon (…) ke Inggris buat timah, dan dicatat oleh beberapa orang Romawi.

Berkaitan waktu yang dipakai pelayaran, disingkap dalam Alkitab Ibrani, Beberapa raja pertama (10:22), seperti berikut: “Lantaran di laut raja memiliki banyak kapal Tarsis tergabung dengan banyak kapal Hiram; dan sekali 3 tahun banyak kapal Tarsis itu hadir bawa emas dan perak dan gading; pun kera serta burung merak.

Lama waktunya saat yang diperlukan dalam pelayaran itu pastinya dipicu pada periode itu pelayaran kapal amat tergantung pada tenaga angin.

Untuk ketahui jarak menempuh /hari beberapa kapal kuno, saya pengin membawa pembaca menyimak jarak dan waktu yang dipakai pelayaran yang dikabarkan Fa Hsien (biksu Cina yang pelawat ke Asia Tenggara dan India pada era kelima) dalam catatannya, jika pelayaran dari Yeh-p’o-t’I (satu tempat di Nusantara, beberapa pakar biasa mengidentifikasinya dengan Jawadwipa) ke Kanton umumnya habiskan waktu sekitaran 50 hari pelayaran.

 

 

Peristiwa Pengangkutan Barang di Indonesia

Peristiwa Berdirinya Jasa Pengangkutan di Nusantara
Peristiwa berdirinya jasa pengantaran yang pertama Indonesia mulai pada kala penjajahan Belanda. Pada era penjajahan VOC, ialah seputar tahun 1602, seluruhnya orang yang mau kirim surat mau tidak mau mesti memercayakan nya ke Stadsherberg atau gedung pemondokan kota.

Cara tadi sebetulnya begitu tidak efisien, dan seorang Gubernur Jenderal namanya Gustaaf Willem Baron van Imhoff terganggu buat bikin jasa pengantaran yang lebih efektif, aman dan terbukti.

Jadi info, Baron van Imhoff yang terlahir di Frisia Timur, 8 Agustus 1705 adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-27 yang memerintah seputar tahun 1743 sampai 1750.

Tahun 1746
Dimulai dari buah pikiran si Gubernur Jenderal itu, pada akhirnya di tahun 1746, persisnya di tanggal 26 Agustus di Batavia dibuat kantor pos pertama di Indonesia.

Dengan berdirinya kantor pos itu, jadi pengangkutan barang lebih menjadi efektif, di mana warga jadi lebih ringan dan merasakan aman saat kirim bermacam naskah penting tak perlu cemas dan ketakutan.

Tahun 1750
Berdirinya jasa pengangkutan di Indonesia itu lantas bersambung di mana pada kurang lebih tahun 1750 atau empat tahun semenjak berdirinya kantor pos di Batavia, dibuat pun cabang kantor pos di Semarang.

Pembangunan kantor pos cabang di Semarang itu makin memberi udara segar untuk kemajuan jasa pengangkutan di Indonesia.

Pembangunan cabang kantor pos di Semarang itu bisa terbuktikan berikan imbas positif dengan menolong kecepatan pengangkutan.

Tentu perihal itu disongsong dengan baik sekali oleh orang. Trayek pengantaran yang dilewati Pos Indonesia waktu itu merupakan Pekalongan, Cirebon dan Karawang.

Tahun 1808
Dalam histori jasa pengantaran di Indonesia itu, ada nama Daendels dalam jalan ceritanya. Di mana di tahun 1808, kepimpinan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tertukarkan oleh Herman Willem Daendels.

Pastilah Anda ketahui siapa orang ini bukanlah? Ya, dia yang mempopulerkan skema kerja rodi. Penduduk Indonesia pada era kepimpinan Daendels mesti merasai pahitnya kerja rodi.

Tetapi dibalik kejamnya siksaan kerja rodi yang tengah dilakukan Daendels, struktur serta service pengantaran ikut makin bertambah baik. Karena tersokong dengan infrastruktur yang sudah dilakukan Daendels itu.

Tahun 1875
Misalnya dengan tersedianya pembangunan jalan dari Jawa Timur sampai Jawa Barat yang kian membantu proses pengantaran barang dari setiap wilayah.

Bersambung di tahun 1875, Pos Indonesia disatukan dengan dinas telegraf serta berpindah nama jadi Post En Telegraafdienst.

Resiko dari peleburan dan pertukaran nama itu ikut berpengaruh pada pertukaran kantornya, di mana awal mulanya kantor pos pusat ada pada Gambir, Jakarta, berubah ke kota Bandung.

Mulai sejak itu Pos Indonesia berkembang lebih sangat cepat sampai selanjutnya berbeda status jadi Perusahaan Negara. Waktu itu Pos Indonesia jadi PN Postel, yaitu Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi.

Tahun 1965
Lalu pada tahun 1965 PN Postel alami peralihan nama kembali, yaitu jadi PN Pos serta Giro yang berpedoman dengan bertambah maju dan mengembangnya bagian komunikasi dan pos.

Tahun 1978
Di tahun 1978 Pos Indonesia kembali berubah nama dari PN Pos dan Giro jadi Perum Pos dan Giro dengan visi membetulkan jalinan dan performa pengantaran dalam negeri pun luar negeri.

Tahun 1995
Sampai pada akhirannya pada tahun 1995 Pos indonesia berubah nama jadi PT Pos Indonesia (persero) hingga sampai sekarang. Saat ini Pos Indonesia sudah punyai cabang di seluruhnya area NKRI, di mana sekurangnya 24.000 titik gapaian pengantaran.

Servis yang dikasihkan kian baik, tidak tahu itu service pra pengantaran, proses pengantaran sampai hingga saat pengangkutan.

By suyua